Latest Post

Training Tim Kesehatan Pusat Khidmat DPC PKS Pancoran Mas Kota Depok

Written By pksdepok on May 3, 2016 | 5/03/2016

PKSDEPOK.com- Depok, Pada Minggu ini (1/5) bertempat di Aula DPC (Dewan Pengurus Cabang) PKS (Partai Keadilan Sejahtera) melangsungkan Training Tim Kesehatan Pusat Khidmat DPC PKS Panmas (Pancoran Mas) Depok.

Imam Musanto, Ketua DPC PKS Panmas, memberikan apresiasi untuk acara training ini. “Acara ini merupakan kegiatan unggulan dari sie Kesra (Kesejahteraan Rakyat) DPC PKS Panmas dan sebagai bekal tim dalam berkhidmat untuk masyarakat di wilayah kecamatan Pancoran Mas dan kelurahan didalamnya”. Ujarnya disela-sela acara.

Juarti, Ketua sie Kesra DPC PKS Pancoran Mas, mengatakan bahwa Tim Khidmat DPC PKS Panmas harus bisa memanfaatkan ilmu yang diajarkan untuk berkiprah di kelurahan masing-masing dengan selalu berkoordinasi dengan Kesra DPC PKS Panmas.

Dengan mengusung tema: “Sehat-Ikhlas dengan sepenuh cinta”, training kali ini, dihadiri oleh tim dari 6 kelurahan di wilayah kecamatan Panmas yaitu : Depok, Depok Jaya, Pancoran Mas, Mampang, Rangkapan Jaya, Rangkapan Jaya Baru.

Selain informasi terkait Kesra DPC PKS Panmas, materi yang diajarkan adalah tata cara pelayanan kesehatan dan praktek pelayanan kesehatan.

Dalam training ini dilakukan pengukuhan Tim Kesehatan Pusat KhidmatDPC PKS Panmas oleh ketua DPC PKS Panmas Depok.

(Depoknews/InCcm)

Ada Sedekah Sampah di Bazar PKS


PKSDEPOK.com- Depok, DPRa PKS Tanah Baru, kemarin (1/5) melaksanakan bazar di Lapangan RW 06, Kelurahan Tanah Baru, Beji. Ketua DPRa PKS Kelurahan Tanah Baru, Rasul mengungkapkan, kegiatan ini merupakan salah satu program yang digagas Rumah Keluarga Indonesia (RKI) DPRa Kelurahan tanah Baru untuk menjalin silaturahmi antara kader dan masyarakat.

"Kegiatan ini sudah tahun kedua kami laksanakan, sebelumnya tahun lalu sudah kami lakukan dan responnya cukup baik," ujarnya kepada Radar Depok, kemarin.

Dirinya menjelaskan, salah satu tujuan utama dari adanya kegiatan ini juga sebagai upaya DPRa PKS Kelurahan Tanah Baru untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

"Walau mendaftarnya ke kami tetapi kami tidak ada income yang masuk. Mereka (masyarakat) membuka stand dan berjualan."ujarnya.

Tak hanya menggelar bazar, ia juga menambahkan, yang unik dari kegiatan ini ialah program sedekah dengan sampah. Program ini juga digagas oleh RKI DPRa Tanah Baru untuk mengumpulkan sampah-sampah dari para kader Tanah Baru yang tempat tinggalnya belum ada kegiatan Bank Sampah.

"Selain sebagai bentuk penggalangan dana untuk kegiatan-kegiatan sosial, program ini juga sebagai salah satu kegiatan yang mendukung program Pemerintah Daerah menuju Depok Zero Waste," paparnya.

(In/ccm)

Kartini, Perempuan dan Keluarga

Written By pksdepok on Apr 22, 2016 | 4/22/2016

Oleh : T. Farida Rachmayanti
Ketua Bidang Perempuan & Ketahanan Keluarga
DPD PKS Kota Depok

PKSDEPOK.com-Depok, “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali kali karena kami menginginkan anak anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi perempuan, agar perempuan dapat lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yag pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Mengenang perjuangan RA Kartini selalu mengingatkan kita tentang tuntutan emansipasi dan kebangkitan gerakan perempuan. Emansipasi yang menuntut agar perempuan mendapatkan kebebasan, merdeka dan berdiri sendiri. Namun jika kita telaah lebih dalam surat RA Kartini kepada teman korespondensinya di atas, tuntutan yang diinginkan Kartini adalah pengajaran dan pendidikan untuk perempuan bukan untuk menyaingi kaum laki-laki namun agar perempuan dapat lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu.

Karena bagi Kartini perjuangan untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan pada masa itu, bukan berarti perempuan meninggalkan peran dan fungsi sesuai kodratnya, yaitu sebagai seorang istri, dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.

Dalam pandangan Kartini, kondisi tradisi, adat istiadat buatan manusia serta penjajahan yang mengabaikan nilai kemanusiaan pada akhirnya akan merusak tatanan sosial. Karena itu Kartini tahu darimana dan bagaimana cara memulainya. Perempuan  sebagai pendidik pertama harus mendapatkan hak pendidikan yang memadai untuk menjalankan peran dan fungsinya. Tugas peradaban yang diemban oleh perempuan membutuhkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan yang bisa diperoleh dari pendidikan. Karena perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas pula. Bagaimana perempuan dapat menjadi pendidik jika dirinya sendiri saja tidak terdidik?

Tugas mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik merupakan kemuliaan yang dianugerahkan bagi perempuan. Karena itulah Allah anugerahkan karakter tertentu kelembutan, kesabaran, ketelatenan, keindahan pada pribadi perempuan. Dengan karakter tersebut, perempuan akan  memberikan kelembutan dan kasih sayang ketika merawat anak-anaknya, mengajar dan mendidik mereka dengan sabar, memberikan teladan dalam bersikap, menghibur dan mendengarkan curahan hati anak-anaknya.

Orang tua memiliki tugas utama mendidik anak-anaknya. Dalam relasi antara anak dan orang tua yang secara kodrat mencakup unsur pendidikan untuk membangun kepribadian anak dan mendewasakannya, maka orang tua menjadi agen pertama dan utama yang mampu dan bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat, akhlak yang terpuji, cerdas, kreatif, mandiri dan peduli terhadap sesama.

Perempuan sebagaimana lelaki menjadi satu kesatuan yang harmoni dalam mengampu sebuah kekuatan utama bangsa: Keluarga. Satu sama lain saling mengisi, tolong menolong, berlomba dalam kebaikan sesuai dengan potensi yang dianugerahkan pencipta. Di antara kaum laki-laki dan perempuan terikat dalam relasi yang proposional saling melengkapi dalam rangka merealisasikan amanah penciptaan manusia. Berkumpul dalam keluarga yang egaliter yang menjadi basis internalisasi  nilai-nilai kebaikan dan keimanan. Satu sama lain menyatukan hati untuk menghadirkan energi cinta bagi anak-anak agar mereka dapat hidup terlindungi.

Kemitraan perempuan dan laki-laki dalam keluarga pun termasuk dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak. Ayah juga harus ikut berperan agar setiap anak memiliki katakter yang seimbang dan jiwa yang sehat sesuai fitrahnya. Anak membutuhkan tokoh ayah secara fisik dan psikologis. Pengasuhan selayaknya tidak dilimpahkan ke orang lain selain orang tua itu sendiri. Karena hakikatnya pengasuhan merupakan pengajaran yang  selaras antara ucapan dengan contoh perbuatan tersebut. Termasuk  bagaimana anak tersebut mencintai amal kebaikan dan menggenggam prinsip keimanan  yang dicontohkan oleh orang tuanya.

Ketika satu kesatuan yang harmoni ini sudah bersinergi dengan baik, maka akan tercipta keluarga yang kokoh. Keluarga merupakan unit sosial dari masyarakat. Jika terjadi degradasi dalam keluarga maka akan berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat. Sebaliknya, Keluarga yang berkualitas memiliki peran besar dalam terjadinya transformasi sosial terhadap bangsa dan negara.

Keluarga Berkualitas, menurut definisi versi baru BKKBN, ialah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sejahtera berarti sebuah keluarga dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Sehat mencakup sehat jasmani, rohani, dan sosial. Maju bermakna memiliki keinginan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan diri dan keluarganya guna meningkatkan kualitasnya. Berjiwa mandiri diartikan memiliki wawasan, kemampuan, sikap dan perilaku tidak tergantung pada orang lain.

Berwawasan berarti memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas, sehingga mampu, peduli, dan kreatif dalam upaya pemenuhan kebutuhan keluarga dan masyarakat secara sosial. Harmonis mencerminkan kondisi keluarga yang utuh dan mempunyai hubungan yang serasi di antara semua anggota keluarga. Yang terakhir dan paling utama, bertakwa berarti taat beribadah dan melaksanakan ajaran agamanya.

Mengenai ketaatan terhadap ajaran agama, Kartini pun sangat menyadari pentingnya hal ini. Tidak banyak yang mengetahui mengenai keinginan Kartini menjadi seorang muslimah sejati, seperti tertulis dalam suratnya,

”Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu : Hamba Allah (Abdulloh).” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)

Bahkan Pandangan kartini tentang Barat-pun berubah, setelah sekian lama sebelumnya dia terkagum dengan budaya Eropa yang menurutnya lebih maju dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan besarnya terhadap tradisi dan agamanya sendiri. Ini tercermin dalam salah satu suratnya,

”Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)

”Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang yang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan.” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902)

Walaupun Kartini seorang perempuan, sejatinya tidak hanya memperjuangkan perempuan. Kartini  memperjuangkan hal-hal mendasar yang sepatutnya dimiliki Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.  Kartini menghendaki terjadinya perubahan sosial yang lebih baik di masyarakat dengan memberikan hak memperoleh pendidikan yang layak.  Membangun masyarakat  dengan memulai membangun keluarga yang kokoh melalui pengajaran serta memberikan keterampilan kepada perempuan. Hal ini beliau wujudkan melalui perjuangannya dengan merencanakan mendirikan Sekolah Khusus bagi perempuan di rumahnya.  Di satu sisi kepeduliannya pada masalah ekonomi juga beliau tunjukkan dengan melakukan pendampingan kepada para pengrajin ukiran.  Kartini membantu membuka akses promosi bagi produk lokal di daerahnya, diantaranya ke Batavia.   Sekali lagi,  Kartini menyadari pentingnya membangun keluarga yang kokoh untuk hadirkan bangsa yang berkualitas.

(in/ccm)

 

 
 

Kabupaten Tasik Juara Lomba Baca Kitab Kuning

Written By pksdepok on Apr 14, 2016 | 4/14/2016

PKSDEPOK.com- Depok, Sebanyak 27 orang peserta hasil seleksi dari kota dan kabupaten se Jawa Barat mengikuti semi final lomba baca kitab kuning tingkat provinsi di aula kantor Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Barat Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung, Kamis 14/4. Peserta dari Kabupaten Tasik berhasil keluar sebagai juara pertama, untuk selanjutnya disusul juara II Kabupaten Cianjur, juara III Kabupaten Ciamis, juara harapan I Kabupaten Garut, juara harapan II Kota Bekasi dan juara harapan III Kota Bogor. Kegiatan ini merupakan rangkaian memperingati milad PKS ke 18.

Ketua DPW PKS Jawa Barat Ahmad Syaikhu berharap lomba ini bisa menambah kecintaan masyarakat dalam melestarikan dan mempelajari kitab kuning. “Kami ucapkan selamat kepada para juara dan terimakasih kepada semua pihak atas partisipasinya pada kegiatan ini. Selamat bertanding pada grand final, semoga Jawa Barat menjadi juara pertama tingkat nasional” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Lomba Kitab Kuning tingkat Provinsi Abdul Muiz menyatakan total peserta 389 orang, kemudian diseleksi menjadi 27 orang mewakili kota dan kabupaten masing-masing. Juara pertama pada semi final tingkat provinsi ini akan dikirim ke grand final di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS, Jakarta, pada Minggu (24/4). 

Lebih lanjut anggota DPRD Jabar ini menyatakan tujuan lomba ini diantaranya untuk memberikan apresiasi kepada para ulama serta para santri yang secara intens dan tekun penuh semangat mendalami kitab kuning di pesantren-pesantren, majlis taklim maupun lembaga keislaman. Melalui lomba kitab kuning ini bisa terjalin silaturahim dengan ulama, cerdik cendekia dan kaum santri.
“Untuk para juara berhak mendapat uang pembinaan dan tropy. Juara pertama mendapat hadiah uang pembinaan sebesar sepuluh juta rupiah, juara kedua tujuh juta lima ratus ribu rupiah dan juara ketiga sebesar lima juta rupiah. Selanjutnya untuk juara harapan ke satu sebesar tiga juta rupiah, juara  harapan ke dua sebesar dua juta serta juara harapan ke tiga mendapatkan satu juta rupiah”, pungkasnya.

Acara dibuka secara resmi oleh Asisten Daerah Provinsi Jawa Barat Ahmad Hadadi mewakili Gubernur. Tampak hadir pada  acara ini Ketua DPP Bidang Wilayah Dakwah Banten, Jakarta dan Jawa Barat (Banjabar) Tate Qomaruddin, para tamu undangan ormas Islam Jabar, diantaranya NU, PUI, Muhammadiyah, Al Wasliyah dan Perti.

Bertindak sebagai dewan juri Drs. KH. Djalaludin Assyatibi, Dr. KH. Mujio Nurkholis, M.Ag (MUI), dan Dr. KH. Asep Arifin, M.Ag. Acara. (DLS)

(in/ccm)

Mufid Jawara Lomba Baca Kitab Kuning

Written By pksdepok on Apr 11, 2016 | 4/11/2016

PKSDEPOK.com- Depok, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Depok, kemarin, rampung melaksanakan lomba membaca kitab kuning di Kantor DPC PKS Beji. Mufid Kulilullah (28), seorang santri asal Depok berhasil menjadi pemenang. Dengan mengantongi total nilai 710 poin, Mufid terlampau tangguh untuk dikejar oleh lawannya.

Atas prestasi ini, Ia mendapat uang tunai sebesar  Rp.3 juta. Selain itu, Mufid berkesempatan mengikuti  seleksi di tingkat provinsi dalam Lomba serupa.

"Juara pertama mendapat Rp.3 juta, lalu kedua sebesar Rp.2 juta serta juara ketiga sebesar Rp.1 juta," ungkap ketua Lomba Baca Kitab kuning, Rahmat Kartolo.  Rahmat menambahkan, pada Kamis (14/4), akan digelar seleksi tingkat provinsi yang digelar di Bandung, "Yang menang di tingkat provinsi akan mewakili Jawa Barat untuk berlaga di tingkat national," ujarnya.
Pada tingkat national itu, nambah dia, Lomba akan dilaksanakan pada 24 April di DPP PKS yang terletak di Jalan TB Simatupang Jakarta Selatan.

" Lomba di tingkat national hadiahnya mencapai  Rp.25juta, Dan hadiahnya tambahan umroh, ungkapnya.

Latar belakang terselenggaranya lomba ini, Rahmat menuturkan bahwa saat ini keberadaan kitab kuning mulai sirna. Karenanya PKS  menjadi salah satu pihak yang peduli untuk mengangkat kembali keberadaan kitab kuning atau kitab gundul ini. "Di pesantren- pesantren juga jarang-jarang yang masih membaca kitab kuning ini, Karena kitab kuning ini juga sulit," ujarnya.

(radardepok/inCcm)

PKS Kota Depok Memahami dan Menerima Keputusan DPP Soal Fahri Hamzah

Written By pksdepok on Apr 8, 2016 | 4/08/2016

PKSDEPOK.com- Depok, DPD PKS Kota Depok memahami dan menerima keputusan DPP PKS, soal pemberhentian Fahri Hamzah (FH) dari semua jenjang keanggotaan partai. Semua itu adalah mekanisme internal partai yang harus dihormati.

“Kami memahami dan menerima keputusan itu (pemberhentian FH) oleh DPP. Ini adalah mekanisme partai, dan kami di DPD harus menghormatinya”, ungkap Moh. Hafid Nasir, Ketua DPD PKS Kota Depok di kantor DPRD pada kamis (7/4/16) kemarin.     

Hafid menambahkan, “Memang DPD PKS adalah pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam pengambilan keputusan itu, tetapi karena DPD berada dibawah DPP, maka tentu saja kami harus taat kepada keputusan pusat”.

Hafid mengaku prihatin atas kejadian ini, tetapi ia optimis PKS akan semakin solid kedepannya.

“Disatu sisi kami prihatin, tetapi disisi lain biarlah ini jadi momentum konsolidasi kami dalam menata partai jadi lebih baik” sambung Hafid yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kota Depok ini.

Sejak awal PKS memposisikan sebagai partai dakwah dengan managemen kolektif, bukan figuritas. Sehingga setiap masalah yang terjadi, termasuk indisipliner anggotanya, selalu diselesaikan dengan managemen kolektif partai, bukan individu.

“Kami yakin struktur PKS di Kota Depok tetap solid dan menerima keputusan DPP", Ujar Hafid menyudahi keterangannya.

(in/ccm)

Syarat dan Ketentuan Mengikuti Lomba Kitab Kuning PKS Depok

Written By pksdepok on Apr 7, 2016 | 4/07/2016

IKUTI LOMBA BACA KITAB KUNING PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) 2016


Dalam rangka memeriahkan Milad Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ke-18 dan untuk mendorong semangat generasi muda dalam mengkaji nilai-nilai Islam. PKS menyelenggarakan Lomba Baca Kitab Kuning.
A. Kriteria Peserta
– WNI yang berdomisili di Indonesia
– Putra
– Usia 15 – 25 tahun atau pendidikan aliyah
– Mendapatkan rekomendasi dari pimpinan pondok pesantren atau kyai/ustadz/tuan guru
B. Babak Penyisihan Tingkat Kota Depok
Hari, tanggal  :  Ahad, 10 April 2016
Waktu             : 09.00 WIB s.d. selesai
Tempat           : Kantor DPC PKS Beji, Depok.
Jalan Ridwan Rais, Kavling Pupuk Kujang.
Juara I Tingkat Kota akan diikutkan pada lomba Tingkat Propinsi Jawa Barat di Bandung.
Juara I Tingkat Propinsi Jawa Barat akan diikutkan pada lomba tingkat nasional di Jakarta.
C. Kitab
Kitab yang dibaca adalah kitab Fathul Mu’in
D. Dewan Juri Tingkat Kota Depok
a. Ust. H. Aceng Thoha Abdul Qadir, Lc.
b. DR. Abbas Mansur Taman
E. Pendaftaran
1 April – 9 April 2016
Hubungi Heri Pratomo 0877-7762-9853
F. Hadiah
Tingkat Nasional:
Juara I Umroh
Juara II Rp20.000.000
Juara III Rp15.000.000
Tingkat Kota Depok
Juara I Rp 3 Juta
Juara II Rp 2 Juta
Juara III Rp 1 Juta
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi
Heri Pratomo 0877-7762-9853
====
Informasi Resmi
DPD PKS Depok
fb.com/dpdpks.depok
twitter.com/pks_depok
(In/Ccm)

Gelar Lomba Baca Kitab Kuning, Siapkan Jutaan Rupiah.

PKSDEPOK.com -  PKS se-Jawa Barat mengadakan lomba membaca kitab kuning secara serentak pada Minggu (10/4). Walau serentak, kegiatan ini dilakukan di tiap kota/kabupaten.

Ketua DPD PKS Depok, Hafid Nasir mengatakan, lomba ini digelar dengan mengundang seluruh pesantren di Depok.

"Kami telah berkoordinasi dengan pihak pesantren di seluruh Kota Depok. Kini sedang proses pendaftaran," terang Hafid.

Perlombaan ini dilakukan secara berjenjang. Dimulai dari tingkat kota hingga nanti di tingkat pusat/nasional. "Nantinya peserta yang menang di tiap kota dan kabupaten akan mendapat kesempatan mengikuti lomba di jenjang selanjutnya," jelas Hafid.

Selain ikut dalam lomba selanjutnya, hadiah uang tunai serta pembinaan dari partai juga diberikan kepada peserta terbaik. Karenanya semua diharapkan peserta yang mengikuti lomba ini merupakan mereka yang direkomendasikan pihak sekolah/pesantren. "Hadiahnya tentu ada, kami menyediakan Rp.3 juta untuk juara pertama, Rp.2 juta untuk juara kedua dan Rp.1 juta untuk juara terakhir," terangnya.

Untuk lomba membaca kitab kuning tingkat nasional, kata Hafid pemenang akan mendapat hadiah umroh.

Lomba ini merupakan yang pertama kali dilakukan. Tujuannya untuk membangun komunikasi secara konsisten kepada masyarakat. Karena menurutnya, tidak ada yang salah, ketika partai menggamit simpati warga lewat serangkaian kegiatan.

"Kegiatan ini juga merupakan program turunan pusat. Ke depan kami akan melakukan banyak kegiatan lainnya,"
tukasnya.
(RadarDepok/InCcm)

Darurat Kecerdasan Literasi bagi Kader

Written By pksdepok on Apr 2, 2016 | 4/02/2016

PKSDEPOK.com - Tanggal 10 Agustus tahun lalu M Sohibul Iman resmi dilantik menjadi Presiden PKS. Bila ia mengemban tugas pembenahan secara holistik atas kondisi internal partai, maka salah satu hal yang harus dibenahi itu mirip sekali dengan cuitannya di media sosial twitter, dua hari sebelum ia dilantik.

Pada tanggal 8 Agustus 2015, melalui akun twitternya @msi_sohibuliman ia mengeluhkan ekses melimpahnya informasi yang membuat “kita” (ia gunakan kata kita sebagai ajakan introspeksi) mudah menyebarkan informasi sampah yang disertai cacian.

“Melimpahnya informasi kadang bikin kita menjadi seperti orang bodoh. Dengan mudah kita share info-info sampah, bahkan dengan info-info itu kita tebar caci dan fitnah. Boleh jadi ini paradok paling heboh di era medsos: makin melimpah informasi bukan makin bijak dan penuh hikmah tapi makin ceroboh dan tebar fitnah,” begitu tulisnya.

“Pada kasus ekstrim, ceroboh dan fitnah bisa timbulkanirreversible damage (kerusakan yang tak dapat dipulihkan). Itu kerugian besar. Petaka bagi semua,” imbuhnya lagi.

Mungkin Sohibul Iman mendapati kenyataan ini setelah melihat kondisi sekitarnya di media sosial. Dan sebagai seorang petinggi PKS, bisa ditebak ia dikelilingi oleh kader-kader PKS, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Memang kenyataannya, beberapa kejadian menunjukkan adanya darurat literasi bagi kader PKS. Kasus yang terbaru adalah tersebarnya di kalangan pendukung PKS sebuah tulisan hoax yang menuduh korban penembakan Paris adalah boneka, bukan jasad manusia.


Pabrikasi Isu dan Jebakan
Begitu melimpah bahan untuk dibaca oleh kader partai yang memang terkenal punya hobi membaca. Seorang penulis bernama Erwyn Kurniawan pernah bercerita tentang sosok penjual buku yang selalu mengeluh dagangannya tak begitu laku bila ia jajakan di tengah acara partai. Lantas ada yang menyarankan agar dagangannya itu dijajakan pada acara PKS – sesuatu yang belum pernah dicoba pedagang buku tersebut. Ternyata benar, di acara PKS lah ia bisa mengipas-ngipas lembaran uang dengan penuh senyum.

Itu baru terhadap buku yang untuk memperolehnya harus mengeluarkan uang. Bagaimana lagi bila bahan bacaan itu gratis didapat melalui internet via jejaring sosial, atau aplikasi chatting semisal Whatsapp atau BBM? Kader PKS menikmati benar limpahan informasi ini.

Keluhan Sohibul Iman tadi tentang tabiat manusia di era melimpahnya informasi, berlaku juga buat kader PKS. Puncaknya adalah pada perhelatan pilpres yang lalu. Begitu banyak informasi simpang siur yang sesungguhnya tak layak sebar. Isu Jokowi keturunan Cina, misalnya, sempat dimakan oleh beberapa pendukung PKS di media sosial. Padahal saya dengar langsung dari pengurus PKS di Jawa Tengah bahwa isu itu bohong. Jokowi keturunan Jawa asli.

Sebuah web online punya kontribusi besar dalam penyebaran isu ini. Padahal selama ini web tersebut suka menyudutkan PKS. Terhadap tulisan di web tersebut yang menyudutkan PKS, kader menyangkal. Tetapi terhadap tulisan yang menyudutkan pihak yang berseberangan dengan partainya, kader PKS menelan mentah-mentah tanpa kehati-hatian.


Isu-isu itu seperti dipabrikasi lalu dijadikan “bom” paket yang dikirimkan oleh seorang misterius. Isu Jokowi keturunan Cina memang menjadi “bom” yang sukses meledak di tengah pendukung Prabowo-Hatta. Ada isu lain yang “meledak di tengah jalan”, belum sampai ke tujuan. Misalnya isu “RIP Jokowi” yang belum apa-apa terdeteksi beredar awal dari kalangan pendukung Jokowi-JK. Bisnis.com menulis berita ini dengan judul “WAH…Penyebar ‘RIP Jokowi’ Diduga Pendukung JKW4P Sendiri”.

Perang rumor pada zaman pilpres lalu memang merupakan yang paling parah. Kedua belah kubu pasangan calon sama-sama mendapat gempuran. Salah satu pihak yang disorot dalam penyebaran isu adalah tabloid Obor Rakyat. Media ini bahkan sempat dipolisikan oleh kubu Jokowi-JK. Lalu berselang setahun kemudian, para pendukung Jokowi semakin geram karena bos pimred Obor Rakyat malah menjabat sebagai Komisaris BUMN. Padahal posisi Komisaris BUMN belakangan banyak ditempati oleh para pendukung Jokowi. Lalu di pihak mana sebenarnya Obor Rakyat ini? Apa tujuan kampanye negatif yang dilakukan Obor Rakyat di pilpres lalu? Victim playing kah?

Di tubuh PKS sejatinya sudah banyak yang curiga adanya pabrikasi isu yang bertujuan menjebak dan meruntuhkan reputasi partai. Si pembuat isu ini tampaknya paham karakter kader PKS yang rakus informasi dan militan membela pihak yang didukungnya.

Sebuah isu bombastis dihembuskan ke tengah media sosial, tak menunggu lama agar isu itu tersebar kemana-mana, lalu disiapkan bantahannya yang kuat. Dan reputasi penyebar pun hancur sudah.
Karena itu lah pentingnya melek literasi.


Kecerdasan Literasi Buat Kader PKS
“Di medsos ada orang/kelompok yg hobi menghasut. Ada juga orang/kelompok yang gampang dihasut. Jadilah sinergi penghasut+terhasut. Semua jadi kusut. Ada orang/kelompok yang hanya bisa eksis dengan menghasut. Hakikatnya mereka itu pengecut. Mereka sorak bila kita layani. Kita biarkan mereka mati sendiri,” begitu tulis Sohibul Iman di twitter, mensinyalir nyata adanya pelaku pabrikasi isu dan hasutan.

Sekedar melek informasi tidak cukup. Dan menjadi melek informasi di zaman sekarang justru sangat mudah. Yang dibutuhkan adalah melek literasi. Lebih tinggi dari sekedar melek informasi.
Wikipedia mendefinisikan literasi media sebagai “kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.”

Melek literasi berarti mampu melakukan penilaian terhadap sebuah informasi, bahkan mampu melakukan validasi sehingga tidak terjebak kabar bohong. Juga bisa mendeteksi framing atau spinning sebuah berita.

Salah satu cara memvalidasi kabar adalah dengan tabayun. Itu adalah “kata sakti” yang suka disodorkan kader PKS bila diserang rumor. Artinya, kader PKS paham bagaimana menjadi melek literasi. Saat menyuruh orang lain “tabayun dulu”, artinya kader PKS menuntut orang agar melek literasi.

Bagaimana dengan kader PKS sendiri? Sudahkah mengaplikasikan nasihatnya?
Belajar dari asbabun nuzul turunnya perintah tabayun (mendalami masalah) pada Al-Qur’an surat Al Hujurat ayat 6, sikap menelan bulat-bulat informasi tanpa memeriksanya kembali bisa berujung pada permusuhan hingga pertumpahan darah. Atau istilah yang digunakan Sohibul Iman: irreversible damage.
Harusnya kader PKS menjadi yang terdepan dalam menyikapi rumor. Menjadi teladan bagi masyarakat. Dan sebagaidu’at (pendakwah), tradisi tabayun adalah salah satu poin yang harus didakwahkan dan diteladankan. Karena itu merupakan syariat Islam.
Tabayun tak selalu bermakna bertanya langsung kepada yang tertuduh. Justru sebenarnya yang dimintai bukti adalah pihak penuduh, bukan pihak tertuduh. Ulama merumuskan kaidah fiqh yang berbunyi: “Penuduh wajib membawa bukti, sedangkan tertuduh cukup bersumpah”. Jadi yang perlu diperiksa, dianalisa, dan didekontruksi dalam sebuah isu adalah konten tuduhan. Sudahkah ia dilengkapi bukti-bukti yang valid?

Kecerdasan literasi adalah saat berbagai sumber informasi yang dilahap oleh seseorang mampu membuatnya memiliki wawasan yang menopangnya dalam berfikir. Sehingga bila berargumentasi, hujjah yang dibangun punya landasan yang terujuk, bukan sekedar asal membual. Luasnya wawasan seseorang juga melindunginya dari kabar-kabar bohong. Bukan kah salah satu karakter yang ingin dicapai dalam program pembinaan kepribadian Islam di PKS adalah“mutsqofatul fikr”, atau fikiran yang berwawasan?

Materi ghozwul fikri yang diterima oleh kader PKS melalui pembimbing keislamannya harus ditempatkan dalam posisi yang tepat. Mengabaikan ghozwul fikri, bisa membuat seorang muslim hanyut dalam skenario pihak yang terjangkit islamophobia yang menginginkan umat Islam jauh dari aqidahnya. Tetapi menghayati materi ini di luar batas, bisa membuat paranoid. Sikap begini mudah sekali mengafirmasi kabar-kabar bohong seputar teori konspirasi. Makanya, ada yang menelan mentah-mentah tulisan hoax “korban Paris adalah boneka”.

PKS punya perangkat untuk membuat kadernya melek literasi, melalui program pembinaan keislaman tiap pekan. Di tubuh PKS terdapat juga praktisi jurnalistik, blogger/penulis yang melek literasi, atau pakar informasi yang bisa merumuskan sebuah kurikulum dalam membenahi mental kader PKS di dunia maya. Perlu ada pelatihan menginvestigasi isu. Atau paling banter, menggencarkan nasihat agar mengabaikan kabar yang tidak mampu diverifikasi.

Ikhtiar-ikhtiar tersebut perlu diwujudkan bila benar ada keinginan untuk memperbaiki kemampuan kader PKS dalam berliterasi, sehingga tidak lagi menjadi bulan-bulanan pihak yang mempabrikasi isu.
Zico Alviandri
#RelawanLiterasi
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKSDEPOK.com - All Rights Reserved
Support by. Blogger