Latest Post

Kartini, Perempuan dan Keluarga

Written By pksdepok on Apr 22, 2016 | 4/22/2016

Oleh : T. Farida Rachmayanti
Ketua Bidang Perempuan & Ketahanan Keluarga
DPD PKS Kota Depok

PKSDEPOK.com-Depok, “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali kali karena kami menginginkan anak anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi perempuan, agar perempuan dapat lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yag pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Mengenang perjuangan RA Kartini selalu mengingatkan kita tentang tuntutan emansipasi dan kebangkitan gerakan perempuan. Emansipasi yang menuntut agar perempuan mendapatkan kebebasan, merdeka dan berdiri sendiri. Namun jika kita telaah lebih dalam surat RA Kartini kepada teman korespondensinya di atas, tuntutan yang diinginkan Kartini adalah pengajaran dan pendidikan untuk perempuan bukan untuk menyaingi kaum laki-laki namun agar perempuan dapat lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu.

Karena bagi Kartini perjuangan untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan pada masa itu, bukan berarti perempuan meninggalkan peran dan fungsi sesuai kodratnya, yaitu sebagai seorang istri, dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.

Dalam pandangan Kartini, kondisi tradisi, adat istiadat buatan manusia serta penjajahan yang mengabaikan nilai kemanusiaan pada akhirnya akan merusak tatanan sosial. Karena itu Kartini tahu darimana dan bagaimana cara memulainya. Perempuan  sebagai pendidik pertama harus mendapatkan hak pendidikan yang memadai untuk menjalankan peran dan fungsinya. Tugas peradaban yang diemban oleh perempuan membutuhkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan yang bisa diperoleh dari pendidikan. Karena perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas pula. Bagaimana perempuan dapat menjadi pendidik jika dirinya sendiri saja tidak terdidik?

Tugas mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik merupakan kemuliaan yang dianugerahkan bagi perempuan. Karena itulah Allah anugerahkan karakter tertentu kelembutan, kesabaran, ketelatenan, keindahan pada pribadi perempuan. Dengan karakter tersebut, perempuan akan  memberikan kelembutan dan kasih sayang ketika merawat anak-anaknya, mengajar dan mendidik mereka dengan sabar, memberikan teladan dalam bersikap, menghibur dan mendengarkan curahan hati anak-anaknya.

Orang tua memiliki tugas utama mendidik anak-anaknya. Dalam relasi antara anak dan orang tua yang secara kodrat mencakup unsur pendidikan untuk membangun kepribadian anak dan mendewasakannya, maka orang tua menjadi agen pertama dan utama yang mampu dan bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat, akhlak yang terpuji, cerdas, kreatif, mandiri dan peduli terhadap sesama.

Perempuan sebagaimana lelaki menjadi satu kesatuan yang harmoni dalam mengampu sebuah kekuatan utama bangsa: Keluarga. Satu sama lain saling mengisi, tolong menolong, berlomba dalam kebaikan sesuai dengan potensi yang dianugerahkan pencipta. Di antara kaum laki-laki dan perempuan terikat dalam relasi yang proposional saling melengkapi dalam rangka merealisasikan amanah penciptaan manusia. Berkumpul dalam keluarga yang egaliter yang menjadi basis internalisasi  nilai-nilai kebaikan dan keimanan. Satu sama lain menyatukan hati untuk menghadirkan energi cinta bagi anak-anak agar mereka dapat hidup terlindungi.

Kemitraan perempuan dan laki-laki dalam keluarga pun termasuk dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak. Ayah juga harus ikut berperan agar setiap anak memiliki katakter yang seimbang dan jiwa yang sehat sesuai fitrahnya. Anak membutuhkan tokoh ayah secara fisik dan psikologis. Pengasuhan selayaknya tidak dilimpahkan ke orang lain selain orang tua itu sendiri. Karena hakikatnya pengasuhan merupakan pengajaran yang  selaras antara ucapan dengan contoh perbuatan tersebut. Termasuk  bagaimana anak tersebut mencintai amal kebaikan dan menggenggam prinsip keimanan  yang dicontohkan oleh orang tuanya.

Ketika satu kesatuan yang harmoni ini sudah bersinergi dengan baik, maka akan tercipta keluarga yang kokoh. Keluarga merupakan unit sosial dari masyarakat. Jika terjadi degradasi dalam keluarga maka akan berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat. Sebaliknya, Keluarga yang berkualitas memiliki peran besar dalam terjadinya transformasi sosial terhadap bangsa dan negara.

Keluarga Berkualitas, menurut definisi versi baru BKKBN, ialah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sejahtera berarti sebuah keluarga dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Sehat mencakup sehat jasmani, rohani, dan sosial. Maju bermakna memiliki keinginan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan diri dan keluarganya guna meningkatkan kualitasnya. Berjiwa mandiri diartikan memiliki wawasan, kemampuan, sikap dan perilaku tidak tergantung pada orang lain.

Berwawasan berarti memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas, sehingga mampu, peduli, dan kreatif dalam upaya pemenuhan kebutuhan keluarga dan masyarakat secara sosial. Harmonis mencerminkan kondisi keluarga yang utuh dan mempunyai hubungan yang serasi di antara semua anggota keluarga. Yang terakhir dan paling utama, bertakwa berarti taat beribadah dan melaksanakan ajaran agamanya.

Mengenai ketaatan terhadap ajaran agama, Kartini pun sangat menyadari pentingnya hal ini. Tidak banyak yang mengetahui mengenai keinginan Kartini menjadi seorang muslimah sejati, seperti tertulis dalam suratnya,

”Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu : Hamba Allah (Abdulloh).” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)

Bahkan Pandangan kartini tentang Barat-pun berubah, setelah sekian lama sebelumnya dia terkagum dengan budaya Eropa yang menurutnya lebih maju dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan besarnya terhadap tradisi dan agamanya sendiri. Ini tercermin dalam salah satu suratnya,

”Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)

”Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang yang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan.” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902)

Walaupun Kartini seorang perempuan, sejatinya tidak hanya memperjuangkan perempuan. Kartini  memperjuangkan hal-hal mendasar yang sepatutnya dimiliki Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.  Kartini menghendaki terjadinya perubahan sosial yang lebih baik di masyarakat dengan memberikan hak memperoleh pendidikan yang layak.  Membangun masyarakat  dengan memulai membangun keluarga yang kokoh melalui pengajaran serta memberikan keterampilan kepada perempuan. Hal ini beliau wujudkan melalui perjuangannya dengan merencanakan mendirikan Sekolah Khusus bagi perempuan di rumahnya.  Di satu sisi kepeduliannya pada masalah ekonomi juga beliau tunjukkan dengan melakukan pendampingan kepada para pengrajin ukiran.  Kartini membantu membuka akses promosi bagi produk lokal di daerahnya, diantaranya ke Batavia.   Sekali lagi,  Kartini menyadari pentingnya membangun keluarga yang kokoh untuk hadirkan bangsa yang berkualitas.

(in/ccm)

 

 
 

Kabupaten Tasik Juara Lomba Baca Kitab Kuning

Written By pksdepok on Apr 14, 2016 | 4/14/2016

PKSDEPOK.com- Depok, Sebanyak 27 orang peserta hasil seleksi dari kota dan kabupaten se Jawa Barat mengikuti semi final lomba baca kitab kuning tingkat provinsi di aula kantor Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Barat Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung, Kamis 14/4. Peserta dari Kabupaten Tasik berhasil keluar sebagai juara pertama, untuk selanjutnya disusul juara II Kabupaten Cianjur, juara III Kabupaten Ciamis, juara harapan I Kabupaten Garut, juara harapan II Kota Bekasi dan juara harapan III Kota Bogor. Kegiatan ini merupakan rangkaian memperingati milad PKS ke 18.

Ketua DPW PKS Jawa Barat Ahmad Syaikhu berharap lomba ini bisa menambah kecintaan masyarakat dalam melestarikan dan mempelajari kitab kuning. “Kami ucapkan selamat kepada para juara dan terimakasih kepada semua pihak atas partisipasinya pada kegiatan ini. Selamat bertanding pada grand final, semoga Jawa Barat menjadi juara pertama tingkat nasional” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Lomba Kitab Kuning tingkat Provinsi Abdul Muiz menyatakan total peserta 389 orang, kemudian diseleksi menjadi 27 orang mewakili kota dan kabupaten masing-masing. Juara pertama pada semi final tingkat provinsi ini akan dikirim ke grand final di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS, Jakarta, pada Minggu (24/4). 

Lebih lanjut anggota DPRD Jabar ini menyatakan tujuan lomba ini diantaranya untuk memberikan apresiasi kepada para ulama serta para santri yang secara intens dan tekun penuh semangat mendalami kitab kuning di pesantren-pesantren, majlis taklim maupun lembaga keislaman. Melalui lomba kitab kuning ini bisa terjalin silaturahim dengan ulama, cerdik cendekia dan kaum santri.
“Untuk para juara berhak mendapat uang pembinaan dan tropy. Juara pertama mendapat hadiah uang pembinaan sebesar sepuluh juta rupiah, juara kedua tujuh juta lima ratus ribu rupiah dan juara ketiga sebesar lima juta rupiah. Selanjutnya untuk juara harapan ke satu sebesar tiga juta rupiah, juara  harapan ke dua sebesar dua juta serta juara harapan ke tiga mendapatkan satu juta rupiah”, pungkasnya.

Acara dibuka secara resmi oleh Asisten Daerah Provinsi Jawa Barat Ahmad Hadadi mewakili Gubernur. Tampak hadir pada  acara ini Ketua DPP Bidang Wilayah Dakwah Banten, Jakarta dan Jawa Barat (Banjabar) Tate Qomaruddin, para tamu undangan ormas Islam Jabar, diantaranya NU, PUI, Muhammadiyah, Al Wasliyah dan Perti.

Bertindak sebagai dewan juri Drs. KH. Djalaludin Assyatibi, Dr. KH. Mujio Nurkholis, M.Ag (MUI), dan Dr. KH. Asep Arifin, M.Ag. Acara. (DLS)

(in/ccm)

Mufid Jawara Lomba Baca Kitab Kuning

Written By pksdepok on Apr 11, 2016 | 4/11/2016

PKSDEPOK.com- Depok, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Depok, kemarin, rampung melaksanakan lomba membaca kitab kuning di Kantor DPC PKS Beji. Mufid Kulilullah (28), seorang santri asal Depok berhasil menjadi pemenang. Dengan mengantongi total nilai 710 poin, Mufid terlampau tangguh untuk dikejar oleh lawannya.

Atas prestasi ini, Ia mendapat uang tunai sebesar  Rp.3 juta. Selain itu, Mufid berkesempatan mengikuti  seleksi di tingkat provinsi dalam Lomba serupa.

"Juara pertama mendapat Rp.3 juta, lalu kedua sebesar Rp.2 juta serta juara ketiga sebesar Rp.1 juta," ungkap ketua Lomba Baca Kitab kuning, Rahmat Kartolo.  Rahmat menambahkan, pada Kamis (14/4), akan digelar seleksi tingkat provinsi yang digelar di Bandung, "Yang menang di tingkat provinsi akan mewakili Jawa Barat untuk berlaga di tingkat national," ujarnya.
Pada tingkat national itu, nambah dia, Lomba akan dilaksanakan pada 24 April di DPP PKS yang terletak di Jalan TB Simatupang Jakarta Selatan.

" Lomba di tingkat national hadiahnya mencapai  Rp.25juta, Dan hadiahnya tambahan umroh, ungkapnya.

Latar belakang terselenggaranya lomba ini, Rahmat menuturkan bahwa saat ini keberadaan kitab kuning mulai sirna. Karenanya PKS  menjadi salah satu pihak yang peduli untuk mengangkat kembali keberadaan kitab kuning atau kitab gundul ini. "Di pesantren- pesantren juga jarang-jarang yang masih membaca kitab kuning ini, Karena kitab kuning ini juga sulit," ujarnya.

(radardepok/inCcm)

PKS Kota Depok Memahami dan Menerima Keputusan DPP Soal Fahri Hamzah

Written By pksdepok on Apr 8, 2016 | 4/08/2016

PKSDEPOK.com- Depok, DPD PKS Kota Depok memahami dan menerima keputusan DPP PKS, soal pemberhentian Fahri Hamzah (FH) dari semua jenjang keanggotaan partai. Semua itu adalah mekanisme internal partai yang harus dihormati.

“Kami memahami dan menerima keputusan itu (pemberhentian FH) oleh DPP. Ini adalah mekanisme partai, dan kami di DPD harus menghormatinya”, ungkap Moh. Hafid Nasir, Ketua DPD PKS Kota Depok di kantor DPRD pada kamis (7/4/16) kemarin.     

Hafid menambahkan, “Memang DPD PKS adalah pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam pengambilan keputusan itu, tetapi karena DPD berada dibawah DPP, maka tentu saja kami harus taat kepada keputusan pusat”.

Hafid mengaku prihatin atas kejadian ini, tetapi ia optimis PKS akan semakin solid kedepannya.

“Disatu sisi kami prihatin, tetapi disisi lain biarlah ini jadi momentum konsolidasi kami dalam menata partai jadi lebih baik” sambung Hafid yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kota Depok ini.

Sejak awal PKS memposisikan sebagai partai dakwah dengan managemen kolektif, bukan figuritas. Sehingga setiap masalah yang terjadi, termasuk indisipliner anggotanya, selalu diselesaikan dengan managemen kolektif partai, bukan individu.

“Kami yakin struktur PKS di Kota Depok tetap solid dan menerima keputusan DPP", Ujar Hafid menyudahi keterangannya.

(in/ccm)

Syarat dan Ketentuan Mengikuti Lomba Kitab Kuning PKS Depok

Written By pksdepok on Apr 7, 2016 | 4/07/2016

IKUTI LOMBA BACA KITAB KUNING PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) 2016


Dalam rangka memeriahkan Milad Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ke-18 dan untuk mendorong semangat generasi muda dalam mengkaji nilai-nilai Islam. PKS menyelenggarakan Lomba Baca Kitab Kuning.
A. Kriteria Peserta
– WNI yang berdomisili di Indonesia
– Putra
– Usia 15 – 25 tahun atau pendidikan aliyah
– Mendapatkan rekomendasi dari pimpinan pondok pesantren atau kyai/ustadz/tuan guru
B. Babak Penyisihan Tingkat Kota Depok
Hari, tanggal  :  Ahad, 10 April 2016
Waktu             : 09.00 WIB s.d. selesai
Tempat           : Kantor DPC PKS Beji, Depok.
Jalan Ridwan Rais, Kavling Pupuk Kujang.
Juara I Tingkat Kota akan diikutkan pada lomba Tingkat Propinsi Jawa Barat di Bandung.
Juara I Tingkat Propinsi Jawa Barat akan diikutkan pada lomba tingkat nasional di Jakarta.
C. Kitab
Kitab yang dibaca adalah kitab Fathul Mu’in
D. Dewan Juri Tingkat Kota Depok
a. Ust. H. Aceng Thoha Abdul Qadir, Lc.
b. DR. Abbas Mansur Taman
E. Pendaftaran
1 April – 9 April 2016
Hubungi Heri Pratomo 0877-7762-9853
F. Hadiah
Tingkat Nasional:
Juara I Umroh
Juara II Rp20.000.000
Juara III Rp15.000.000
Tingkat Kota Depok
Juara I Rp 3 Juta
Juara II Rp 2 Juta
Juara III Rp 1 Juta
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi
Heri Pratomo 0877-7762-9853
====
Informasi Resmi
DPD PKS Depok
fb.com/dpdpks.depok
twitter.com/pks_depok
(In/Ccm)

Gelar Lomba Baca Kitab Kuning, Siapkan Jutaan Rupiah.

PKSDEPOK.com -  PKS se-Jawa Barat mengadakan lomba membaca kitab kuning secara serentak pada Minggu (10/4). Walau serentak, kegiatan ini dilakukan di tiap kota/kabupaten.

Ketua DPD PKS Depok, Hafid Nasir mengatakan, lomba ini digelar dengan mengundang seluruh pesantren di Depok.

"Kami telah berkoordinasi dengan pihak pesantren di seluruh Kota Depok. Kini sedang proses pendaftaran," terang Hafid.

Perlombaan ini dilakukan secara berjenjang. Dimulai dari tingkat kota hingga nanti di tingkat pusat/nasional. "Nantinya peserta yang menang di tiap kota dan kabupaten akan mendapat kesempatan mengikuti lomba di jenjang selanjutnya," jelas Hafid.

Selain ikut dalam lomba selanjutnya, hadiah uang tunai serta pembinaan dari partai juga diberikan kepada peserta terbaik. Karenanya semua diharapkan peserta yang mengikuti lomba ini merupakan mereka yang direkomendasikan pihak sekolah/pesantren. "Hadiahnya tentu ada, kami menyediakan Rp.3 juta untuk juara pertama, Rp.2 juta untuk juara kedua dan Rp.1 juta untuk juara terakhir," terangnya.

Untuk lomba membaca kitab kuning tingkat nasional, kata Hafid pemenang akan mendapat hadiah umroh.

Lomba ini merupakan yang pertama kali dilakukan. Tujuannya untuk membangun komunikasi secara konsisten kepada masyarakat. Karena menurutnya, tidak ada yang salah, ketika partai menggamit simpati warga lewat serangkaian kegiatan.

"Kegiatan ini juga merupakan program turunan pusat. Ke depan kami akan melakukan banyak kegiatan lainnya,"
tukasnya.
(RadarDepok/InCcm)

Darurat Kecerdasan Literasi bagi Kader

Written By pksdepok on Apr 2, 2016 | 4/02/2016

PKSDEPOK.com - Tanggal 10 Agustus tahun lalu M Sohibul Iman resmi dilantik menjadi Presiden PKS. Bila ia mengemban tugas pembenahan secara holistik atas kondisi internal partai, maka salah satu hal yang harus dibenahi itu mirip sekali dengan cuitannya di media sosial twitter, dua hari sebelum ia dilantik.

Pada tanggal 8 Agustus 2015, melalui akun twitternya @msi_sohibuliman ia mengeluhkan ekses melimpahnya informasi yang membuat “kita” (ia gunakan kata kita sebagai ajakan introspeksi) mudah menyebarkan informasi sampah yang disertai cacian.

“Melimpahnya informasi kadang bikin kita menjadi seperti orang bodoh. Dengan mudah kita share info-info sampah, bahkan dengan info-info itu kita tebar caci dan fitnah. Boleh jadi ini paradok paling heboh di era medsos: makin melimpah informasi bukan makin bijak dan penuh hikmah tapi makin ceroboh dan tebar fitnah,” begitu tulisnya.

“Pada kasus ekstrim, ceroboh dan fitnah bisa timbulkanirreversible damage (kerusakan yang tak dapat dipulihkan). Itu kerugian besar. Petaka bagi semua,” imbuhnya lagi.

Mungkin Sohibul Iman mendapati kenyataan ini setelah melihat kondisi sekitarnya di media sosial. Dan sebagai seorang petinggi PKS, bisa ditebak ia dikelilingi oleh kader-kader PKS, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Memang kenyataannya, beberapa kejadian menunjukkan adanya darurat literasi bagi kader PKS. Kasus yang terbaru adalah tersebarnya di kalangan pendukung PKS sebuah tulisan hoax yang menuduh korban penembakan Paris adalah boneka, bukan jasad manusia.


Pabrikasi Isu dan Jebakan
Begitu melimpah bahan untuk dibaca oleh kader partai yang memang terkenal punya hobi membaca. Seorang penulis bernama Erwyn Kurniawan pernah bercerita tentang sosok penjual buku yang selalu mengeluh dagangannya tak begitu laku bila ia jajakan di tengah acara partai. Lantas ada yang menyarankan agar dagangannya itu dijajakan pada acara PKS – sesuatu yang belum pernah dicoba pedagang buku tersebut. Ternyata benar, di acara PKS lah ia bisa mengipas-ngipas lembaran uang dengan penuh senyum.

Itu baru terhadap buku yang untuk memperolehnya harus mengeluarkan uang. Bagaimana lagi bila bahan bacaan itu gratis didapat melalui internet via jejaring sosial, atau aplikasi chatting semisal Whatsapp atau BBM? Kader PKS menikmati benar limpahan informasi ini.

Keluhan Sohibul Iman tadi tentang tabiat manusia di era melimpahnya informasi, berlaku juga buat kader PKS. Puncaknya adalah pada perhelatan pilpres yang lalu. Begitu banyak informasi simpang siur yang sesungguhnya tak layak sebar. Isu Jokowi keturunan Cina, misalnya, sempat dimakan oleh beberapa pendukung PKS di media sosial. Padahal saya dengar langsung dari pengurus PKS di Jawa Tengah bahwa isu itu bohong. Jokowi keturunan Jawa asli.

Sebuah web online punya kontribusi besar dalam penyebaran isu ini. Padahal selama ini web tersebut suka menyudutkan PKS. Terhadap tulisan di web tersebut yang menyudutkan PKS, kader menyangkal. Tetapi terhadap tulisan yang menyudutkan pihak yang berseberangan dengan partainya, kader PKS menelan mentah-mentah tanpa kehati-hatian.


Isu-isu itu seperti dipabrikasi lalu dijadikan “bom” paket yang dikirimkan oleh seorang misterius. Isu Jokowi keturunan Cina memang menjadi “bom” yang sukses meledak di tengah pendukung Prabowo-Hatta. Ada isu lain yang “meledak di tengah jalan”, belum sampai ke tujuan. Misalnya isu “RIP Jokowi” yang belum apa-apa terdeteksi beredar awal dari kalangan pendukung Jokowi-JK. Bisnis.com menulis berita ini dengan judul “WAH…Penyebar ‘RIP Jokowi’ Diduga Pendukung JKW4P Sendiri”.

Perang rumor pada zaman pilpres lalu memang merupakan yang paling parah. Kedua belah kubu pasangan calon sama-sama mendapat gempuran. Salah satu pihak yang disorot dalam penyebaran isu adalah tabloid Obor Rakyat. Media ini bahkan sempat dipolisikan oleh kubu Jokowi-JK. Lalu berselang setahun kemudian, para pendukung Jokowi semakin geram karena bos pimred Obor Rakyat malah menjabat sebagai Komisaris BUMN. Padahal posisi Komisaris BUMN belakangan banyak ditempati oleh para pendukung Jokowi. Lalu di pihak mana sebenarnya Obor Rakyat ini? Apa tujuan kampanye negatif yang dilakukan Obor Rakyat di pilpres lalu? Victim playing kah?

Di tubuh PKS sejatinya sudah banyak yang curiga adanya pabrikasi isu yang bertujuan menjebak dan meruntuhkan reputasi partai. Si pembuat isu ini tampaknya paham karakter kader PKS yang rakus informasi dan militan membela pihak yang didukungnya.

Sebuah isu bombastis dihembuskan ke tengah media sosial, tak menunggu lama agar isu itu tersebar kemana-mana, lalu disiapkan bantahannya yang kuat. Dan reputasi penyebar pun hancur sudah.
Karena itu lah pentingnya melek literasi.


Kecerdasan Literasi Buat Kader PKS
“Di medsos ada orang/kelompok yg hobi menghasut. Ada juga orang/kelompok yang gampang dihasut. Jadilah sinergi penghasut+terhasut. Semua jadi kusut. Ada orang/kelompok yang hanya bisa eksis dengan menghasut. Hakikatnya mereka itu pengecut. Mereka sorak bila kita layani. Kita biarkan mereka mati sendiri,” begitu tulis Sohibul Iman di twitter, mensinyalir nyata adanya pelaku pabrikasi isu dan hasutan.

Sekedar melek informasi tidak cukup. Dan menjadi melek informasi di zaman sekarang justru sangat mudah. Yang dibutuhkan adalah melek literasi. Lebih tinggi dari sekedar melek informasi.
Wikipedia mendefinisikan literasi media sebagai “kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.”

Melek literasi berarti mampu melakukan penilaian terhadap sebuah informasi, bahkan mampu melakukan validasi sehingga tidak terjebak kabar bohong. Juga bisa mendeteksi framing atau spinning sebuah berita.

Salah satu cara memvalidasi kabar adalah dengan tabayun. Itu adalah “kata sakti” yang suka disodorkan kader PKS bila diserang rumor. Artinya, kader PKS paham bagaimana menjadi melek literasi. Saat menyuruh orang lain “tabayun dulu”, artinya kader PKS menuntut orang agar melek literasi.

Bagaimana dengan kader PKS sendiri? Sudahkah mengaplikasikan nasihatnya?
Belajar dari asbabun nuzul turunnya perintah tabayun (mendalami masalah) pada Al-Qur’an surat Al Hujurat ayat 6, sikap menelan bulat-bulat informasi tanpa memeriksanya kembali bisa berujung pada permusuhan hingga pertumpahan darah. Atau istilah yang digunakan Sohibul Iman: irreversible damage.
Harusnya kader PKS menjadi yang terdepan dalam menyikapi rumor. Menjadi teladan bagi masyarakat. Dan sebagaidu’at (pendakwah), tradisi tabayun adalah salah satu poin yang harus didakwahkan dan diteladankan. Karena itu merupakan syariat Islam.
Tabayun tak selalu bermakna bertanya langsung kepada yang tertuduh. Justru sebenarnya yang dimintai bukti adalah pihak penuduh, bukan pihak tertuduh. Ulama merumuskan kaidah fiqh yang berbunyi: “Penuduh wajib membawa bukti, sedangkan tertuduh cukup bersumpah”. Jadi yang perlu diperiksa, dianalisa, dan didekontruksi dalam sebuah isu adalah konten tuduhan. Sudahkah ia dilengkapi bukti-bukti yang valid?

Kecerdasan literasi adalah saat berbagai sumber informasi yang dilahap oleh seseorang mampu membuatnya memiliki wawasan yang menopangnya dalam berfikir. Sehingga bila berargumentasi, hujjah yang dibangun punya landasan yang terujuk, bukan sekedar asal membual. Luasnya wawasan seseorang juga melindunginya dari kabar-kabar bohong. Bukan kah salah satu karakter yang ingin dicapai dalam program pembinaan kepribadian Islam di PKS adalah“mutsqofatul fikr”, atau fikiran yang berwawasan?

Materi ghozwul fikri yang diterima oleh kader PKS melalui pembimbing keislamannya harus ditempatkan dalam posisi yang tepat. Mengabaikan ghozwul fikri, bisa membuat seorang muslim hanyut dalam skenario pihak yang terjangkit islamophobia yang menginginkan umat Islam jauh dari aqidahnya. Tetapi menghayati materi ini di luar batas, bisa membuat paranoid. Sikap begini mudah sekali mengafirmasi kabar-kabar bohong seputar teori konspirasi. Makanya, ada yang menelan mentah-mentah tulisan hoax “korban Paris adalah boneka”.

PKS punya perangkat untuk membuat kadernya melek literasi, melalui program pembinaan keislaman tiap pekan. Di tubuh PKS terdapat juga praktisi jurnalistik, blogger/penulis yang melek literasi, atau pakar informasi yang bisa merumuskan sebuah kurikulum dalam membenahi mental kader PKS di dunia maya. Perlu ada pelatihan menginvestigasi isu. Atau paling banter, menggencarkan nasihat agar mengabaikan kabar yang tidak mampu diverifikasi.

Ikhtiar-ikhtiar tersebut perlu diwujudkan bila benar ada keinginan untuk memperbaiki kemampuan kader PKS dalam berliterasi, sehingga tidak lagi menjadi bulan-bulanan pihak yang mempabrikasi isu.
Zico Alviandri
#RelawanLiterasi
 

Yuhu… PKS Kota Depok Mulai Nyari Caleg

Written By pksdepok on Apr 1, 2016 | 4/01/2016

PKSDEPOK.com- Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Depok, akan mulai menjaring calon legislatif sedari dini.
Tahun depan, rencananya partai yang kental nuansa agama Islam ini, mulai mengenalkan bakal calon legislatif mereka. 

Badan Pemenangan Pemilu dan Pilkada (BP3) DPD PKS Kota Depok, Muttaqien mengungkapkan, hal ini merupakan terobosan baru yang dilakukan partai, untuk pemenangan calon yang berlaga.
“Sebelumnya, kami selalu mengenalkan calon di menitmenit akhir. Tetapi, saat ini kami mau mengubah cara dengan mencari calon sejak awal,” terangnya kepada Radar Depok, Rabu (30/03/2016). 

Metode ini, kata dia, tidak terlepas dari budaya sungkan yang telah ada sejak awal partai berdiri. Maksudnya, keengganan untuk dikenal atau tampil di hadapan masyarakat.

Imbasnya calon jadi kurang terkenal. Tentunya cara ini harus dipaksakan. Kami tentunya punya target untuk Pileg mendatang (tahun 2019) agar dapat 15 kursi,” ungkapnya.

Kendati demikian, nantinya seluruh calon ini harus beradaptasi dengan keinginan partai. Minimal, di tiap kecamatan memiliki calon legislatif. Meski begitu, partai juga akan menjalankan survey terlebih dahulu, berkaitan dengan elektabilitas calon.

“Kami berharap nantinya seluruh kader dapat beradaptasi dengan hal baru ini. Minimal semua kecamatan memiliki perwakilan yang maju,” jelasnya.

Terpisah, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, Hafid Nasir mengungkapkan pihaknya memang tidak ingin melakukan upaya penokohan ini diakhir-akhir waktu pelaksanaan pemilu. Artinya saat ini, semua calon mulai di jaring. Dari tokoh pemuda, perempuan, dan wilayah.

“Menjaring calon lebih awal merupakan salah satu yang dilakukan agar penokohan ini lebih efektif. Kita mulai membidik tokoh pemuda, perempuan dan yang berada di wilayah,” jelasnya.

Selain menjaring calon lebih awal. Pria yang juga menjabat Ketua DPD PKS Depok ini berharap kekuatan mantan anggota legislatif dari PKS dapat memberikan kekuatan bagi pemenangan caloncalon legislatif.

“Kami berharap mereka (mantan anggota dewan) dapat memberikan kekuatan tersendiri bagi pemenangan tiap calon, karena mereka memiliki masa tersendir dalam lima tahun menjabat,” tukasnya.
(bry)

Pak Bajuri, Menjinakkan Usia dengan Pandu Keadilan

Written By pksdepok on Mar 31, 2016 | 3/31/2016

PKSDEPOK.com- Depok, Pandu Keadilan telah berbaris rapi di halaman kantor Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Depok dengan pakaian kebesaran warna  khas layaknya seorang para pasukan yang siap siaga sebelum berjuang. Ada satu orang laki-laki menonjol di antara para pandu lain. Wajahnya sudah terpahat usia, rambutnya tak lagi menghitam. Ia tampil membawakan taujih rabbani (tilawah) dengan menggunakan TOA tanpa mushaf, selepas sambutan Ketua DPD PKS Depok, Muhammad Hafid Nasir, Jumat (25/3) siang setelah Jum’atan.

“…ashabul jannati humul faizun.”

Siapa sebenarnya peserta yang paling berumur di antara peserta lainnya itu? Mencoba bertanya orang yang sedang berdiri dekat pintu, ia tidak tahu. Bertanya ke rekan wartawan teve juga sama. Nihil. Keterlambatan mengikuti rangkaian agenda awal menghilangkan satu identitas nama.

Belum juga menemukan namanya, rombongan siap-siap dengan roda duanya. Pawai pun dimulai. Di jalan menuju Bogor siang itu, langit yang mendung pun tak malu lagi untuk menumpahkan air hujan. Dingin dan rintiknya makin memacu para pandu keadilan itu untuk terus jalan. Panji PKS yang dipegang peserta berkibar-kibar ditiup angin.

Kemah Peduli Pandu Keadilan adalah program dwi tahunan untuk Pandu Keadilan. Tahun ini Depok berlangsung tiga hari, dari Jumat (25/3) hingga Ahad (27/3). Diikuti oleh  70 peserta dari seluruh DPC se-Depok di Gunung Bunder, Bogor.
Namanya Bajuri (54). Akhirnya memperoleh nama bapak itu, dari obrolan dengan salah seorang peserta. Menyebut namanya sekilas teringat dengan nama lakon utama dalam situasi komedi yang dibintangi oleh Mat Solar, “Bajaj Bajuri”. Sayangnya, dia tidak tambun seperti Bajuri pada sitkom tersebut. Badannya tegap dan perut yang tak begitu buncit.

“Beliau sehari bisa naik sepeda hingga 20 kilometer, lho!” kata seorang peserta sambil membenarkan duduknya di aula saung.  Jumat malam peserta yang sudah mendirikan tenda memang diminta berkumpul di aula yang tak terlalu luas itu.
Ketua Badan Kepemudaan dan Olahraga (BKO) DPD PKS Depok, Sukardi memberikan arahan dan sambutan tentang kegiatan tersebut.
“Benteng pertama itu kepanduan. Benteng terakhir itu kepanduan dan benteng pinggir itu kepanduan," ungkapnya di saung berdinding kombinasi bambu itu.
Yang tidak terbiasa, katanya, dengan kedisiplinan akan menjadi beban.  Peserta tampak antusias menyimak penuturan laki-laki berkaca mata itu.
***
Sabtu (26/3) pagi, tenda - tenda berdiri di bukit yang dipenuhi tanaman hijau dan pohon menjulang. Tampak peserta menyalakan kompor portable dan menuangkan air ke panci persegi empat di atas. Sekadar untuk membuat minuman sereal atau mi instan. Terdengar celotehan, operan candaan dan ada pula suara lembut alunan bacaan alquran dari tenda peserta.

Para peserta dipanggil dengan peluit sakti untuk berkumpul dan berbaris rapi. Sekadar peregangan dan senam-senam kecil. Selepas itu mereka siap mendaki gunung. Tanpa gawai, hanya suara takbir sepanjang perjalanan.

Bermodal kamera handycam, akhirnya penulis mengikuti perjalanan tersebut. Dan menemukan bapak tua Bajuri di tengah perjalanan. Sejauh pengamatan, ia sibuk melafalkan hafalan Al-Qurán. Tak tega untuk mengajak obrolnya, tampak khusyuk sekali. Sementara tugas merekam momen tersebut tak boleh terlewatkan.

Sepanjang jalan peserta melewati semak belukar, berlumpur nan licin, duri tanaman yang kadang menghadang, batang pohon yang melintang, benar-benar penuh tantangan bagi seorang Pandu Keadilan sejati. Dan juga lagi merayap di tanah berlumpur yang sudah disetting oleh panitia. Namun sepertinya mengalahkan keegosentrisan di tengah perjalanan dan mengedepankan persaudaraan harus tetap ditekankan. Naik gunung nyatanya tentang mengalahkan keegoan.

Para pandu keadilan sekali waktu istirahat untuk sekadar mengatur nafas, minum air putih yang dibawa dan berbagi minum kepada rekan yang habis bekal air minumnya. Sebelum sampai ke puncak, mereka diminta berkumpul, membentuk barisan untuk memastikan jumlah kelompoknya masing-masing masih utuh atau tidak. Lalu diminta bergegas memeluk pohon ketika mendengar aba-aba dari komandan tak terkecuali Pak Bajuri. Sekali waktu penuh candaan namun tetap dalam kesiap-siagaan ketika mendengarkan perintah.

Dua jam berjalan akhirnya mereka sampai di puncak, Kawah Ratu. Wajah-wajah lelah tampak semringah.  “Kalau kentut tidak ketahuan nih,” celetuk salah seorang peserta. Mereka memang berada di kawasan penuh belerang, bebatuan serba putih dan aroma batu alam yang sebelas dua belas dengan “gas” manusia.

Dua hari aktivitas bergulir dan berjalan lancar, namun sangat lambat untuk sekadar wawancara  Pak Bajuri. Agenda kegiatan sangat padat. Sabtu sore sekembalinya dari puncak ketik tiba lokasi semula,  hujan turun sangat deras. Petir berkilat-kilat, sekali waktu meletus seperti petasan.  Peserta berteduh di tenda yang tampias, dingin namun hangat oleh ukhuwah. Malam Ahad, lampu pun mati. Lengkap. Gelap-gelap dan dingin-dingin namun masih terdengar alunan Al-Qur án yang dibaca melalui ponsel cerdas.  Misi untuk bertemu Pak Bajuri nampaknya gagal.

Seusai Isya akhirnya lampu menyala. Hujan pun reda. Peserta diminta tampil “pentas seni” sesuai dengan DPC masing-masing. Posisi peserta yang sedang menonton begitu rapat teramat susah untuk mendekati Pak Bajuri, dan lagi tak begitu kondusif. Malam berpihak untuk bertemu dengan Pak Bajuri.
“Iya, dia memang peserta paling berumur,” kata seorang panitia senior. Para peserta memang rata-rata berumur 20-an hingga 40-an tahun.
***
Ahad pagi peserta berkemas untuk pulang. Tenda-tenda sudah digulung dan dilipat. Tas-tas sudah penuh kembali dengan pakaian—yang sudah kotor oleh lumpur. Dikumpulkan kembali membentuk barisan rapi, saling berangkulan meminta maaf.  Kamera handycam sudah tidak bekerja lagi.
“Nama saya Bajuri,” katanya yang berdiri di pinggir jalan, menanti motor temannya untuk berboncengan bersama.

Ia pun menuturkan bahwa dirinya memang rajin berolahraga. Yang ia sukai adalah bersepeda.
“Biasanya 20 kilometer dalam sehari,” terangnya. Wah!

Kadang, katanya, kalau hari libur seperti  hari Ahad, ia akan bersepeda di car free day atau di Senayan, Jakarta. Sekali waktu mengajak anaknya. Untuk acara bersama ini, sebenarnya ia dilarang oleh istrinya. Sebab sudah terlalu tua untuk ikut kepanduan. Lalu apa yang membuatnya nekat ikut?
“Tentu biar sehat jasmani dan ruhiyah. Karena kita harus siap siaga kapanpun,” katanya.
Dengan jeda napas, ia mengungkapkan sesuatu yang tampaknya agak berat. “Ini cara saya menjinakkan asma,” akunya. Masya Allah.
Muhammad Solich Mubarok
#RelawanLiterasi
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKSDEPOK.com - All Rights Reserved
Support by. Blogger